Sunday, July 22, 2012

Seberkas Ingatan


Hanya tiba-tiba teringat tempat ini, sungguh rindu dan berharap tak melupakan semua moment indah yang pernah terjadi di sana.
Kampusku tercinta, tempatku menimba ilmu dalam beberapa tahun, tempatku menghabiskan banyak waktu di sana.
Mungkin menjadi dewasa memang sebuah pilihan, berusaha atau menyerah. Karena aku hampir menyerah menjadi dewasa ketika aku harus melangkahkan kakiku meninggalkan segala gelak canda dan tawa yang masih akan selalu tertinggal di sana.
Masa-masa menjadi pelajar telah usai, itulah yang selalu aku kumandangkan dalam hatiku. Sudah saatnya aku terbang menggapai semua mimpiku. Merengkuhnya dalam dekapan suka cita, tanpa harus menoleh kembali ke belakang.
Suatu saat nanti, segala bentuk rasa yang seakan tak ingin meninggalkan tempat itu pastilah akan terganti dengan beragam rasa lain.
Saatnya tumbuh, berjalan, berlari dan mengabdi. Aku hanya termasuk segelintir orang yang berkutat dengan banyaknya rancangan hidup hingga aku yakin mampu menggapai semuanya.
Mimpi dan harapan yang akan terus berkobar didada, hanya untuk sebuah kelanjutan hidup.
Biarkan semua terkenang dalam indahnya kemasan persahabatan dan kasih sayang, karena aku yakin semua telah berganti masa.
Masa-masaku di sana telah lewat, masa-masaku telah berganti. Hanya saatnya menatap masa depan dengan cerah untuk sebuah prestasi yang gemilang.
Bahkan semua hati akan selalu terpaut pada kenangan itu hingga waktu memberikan kesempatan untuk merajutnya kembali.

Hanya Semangat

Sudah memasuki puasa hari ketiga, waktu berjalan dengan sangat cepatnya. Bahkan tidak memberiku waktu untuk sekedar menghela nafas, laksana kereta api yang tanpa bisa berhenti secara tiba-tiba, dialah sang waktu. Aku bukan tipe orang yang suka berandai-andai, namun aku sering melakukannya. Entahlah, mungkin karena aku merasa tak menemukan arah saat sampai pada persimpangan jalan. Masalahnya selalu sama, aku tak yakin untuk memilih yang terbaik diantara banyaknya pilihan yang terbaik.
Mula-mula aku bersemangat, bahkan bersemangat melebihi yang lain. Dengan segudang rancangan hidup yang seakan membuatku tak akan kehabisan ide. Lalu, apa yang selanjutnya terjadi? Aku hanya tidak stabil dalam membagi semangatku, hanya tidak mampu menggunakannya dengan baik.
Semangat adalah rasa dalam hidup, sebuah asa yang tanpa celah, seberkas mimpi yang menggelembung liar di udara. Aku menemukan itu semua baru-baru ini, hanya baru beberapa bulan ini. Sebuah perasaan gila yang seakan menggebu-gebu dengan beragam gambaran aneh lainnya.
Ini hanya tentang aku beserta rumitnya kemauan yang membuncah ruah di dalamnya. Hanya seorang gadis manja yang seakan memiliki kekuatan untuk menaklukkan dunia, keberanian yang cukup menantang.
Ada sebuah kisah yang sungguh hanya mampu membuatku tersipu malu bahkan hampir meneteskan air mata, entahlah, semua terlalu indah untuk hanya aku kenang.
Aku sedang berada pada posisi nol dalam sebuah bidang kartesius, itulah filosofi yang aku gunakan sebagai seorang yang telah menamatkan diri dari sebuah jurusan Matematika.
Ketika aku menyadari posisiku saat ini yang tengah berada pada posisi bawah, aku benar-benar bersyukur. Karena aku masih diberikan kesempatan, sebuah kesempatan untukku meroket, melambung tinggi di udara. Aku hanya terlalu takut untuk bangkit hingga aku membutuhkan sebuah tamparan keras di pipiku, hanya agar aku terbangun dan menghadapi kenyataan hidup yang tengah menantiku.
Aku sudah memikirkan semuanya, tentang rencana-rencana yang ingin aku gapai. Namun lagi-lagi, kegilaanku tentang semangat itu kembali mengganggu. Aku hanya terlalu bersemangat hingga tak mampu mengendalikan diri ketika dihadapkan kembali pada rencana-rencana itu. Aku hanya terlalu penuh dengan asa yang seakan membuatku memimpikan semua hal dalam sekejap.
Aku tidak ingin menyerah, aku sedang belajar menikmatik sensaninya. Bahwa perjalananku masih sangat panjang, terlepas bahwa masih akan ada berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus persimpangan jalan yang akan aku hadapi nanti.
Kini, biarkan saja semuanya terjadi, hanya ambillah sebuah prioritas untuk sebuah tujuan penting. Semua memang penting, namun pasti ada yang lebih penting. Tetap berjalan dan lakukan semua dengan sepenuh hati.

Hanya Semangat

Sudah memasuki puasa hari ketiga, waktu berjalan dengan sangat cepatnya. Bahkan tidak memberiku waktu untuk sekedar menghela nafas, laksana kereta api yang tanpa bisa berhenti secara tiba-tiba, dialah sang waktu. Aku bukan tipe orang yang suka berandai-andai, namun aku sering melakukannya. Entahlah, mungkin karena aku merasa tak menemukan arah saat sampai pada persimpangan jalan. Masalahnya selalu sama, aku tak yakin untuk memilih yang terbaik diantara banyaknya pilihan yang terbaik.
Mula-mula aku bersemangat, bahkan bersemangat melebihi yang lain. Dengan segudang rancangan hidup yang seakan membuatku tak akan kehabisan ide. Lalu, apa yang selanjutnya terjadi? Aku hanya tidak stabil dalam membagi semangatku, hanya tidak mampu menggunakannya dengan baik.
Semangat adalah rasa dalam hidup, sebuah asa yang tanpa celah, seberkas mimpi yang menggelembung liar di udara. Aku menemukan itu semua baru-baru ini, hanya baru beberapa bulan ini. Sebuah perasaan gila yang seakan menggebu-gebu dengan beragam gambaran aneh lainnya.
Ini hanya tentang aku beserta rumitnya kemauan yang membuncah ruah di dalamnya. Hanya seorang gadis manja yang seakan memiliki kekuatan untuk menaklukkan dunia, keberanian yang cukup menantang.
Ada sebuah kisah yang sungguh hanya mampu membuatku tersipu malu bahkan hampir meneteskan air mata, entahlah, semua terlalu indah untuk hanya aku kenang.
Aku sedang berada pada posisi nol dalam sebuah bidang kartesius, itulah filosofi yang aku gunakan sebagai seorang yang telah menamatkan diri dari sebuah jurusan Matematika.
Ketika aku menyadari posisiku saat ini yang tengah berada pada posisi bawah, aku benar-benar bersyukur. Karena aku masih diberikan kesempatan, sebuah kesempatan untukku meroket, melambung tinggi di udara. Aku hanya terlalu takut untuk bangkit hingga aku membutuhkan sebuah tamparan keras di pipiku, hanya agar aku terbangun dan menghadapi kenyataan hidup yang tengah menantiku.
Aku sudah memikirkan semuanya, tentang rencana-rencana yang ingin aku gapai. Namun lagi-lagi, kegilaanku tentang semangat itu kembali mengganggu. Aku hanya terlalu bersemangat hingga tak mampu mengendalikan diri ketika dihadapkan kembali pada rencana-rencana itu. Aku hanya terlalu penuh dengan asa yang seakan membuatku memimpikan semua hal dalam sekejap.
Aku tidak ingin menyerah, aku sedang belajar menikmatik sensaninya. Bahwa perjalananku masih sangat panjang, terlepas bahwa masih akan ada berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus persimpangan jalan yang akan aku hadapi nanti.
Kini, biarkan saja semuanya terjadi, hanya ambillah sebuah prioritas untuk sebuah tujuan penting. Semua memang penting, namun pasti ada yang lebih penting. Tetap berjalan dan lakukan semua dengan sepenuh hati.

Thursday, July 19, 2012

Aku Memilihmu

Aku memilih untuk berhenti sejenak, bukan aku menyerah. Aku hanya ingin sejenak saja menghela nafas dan duduk dengan santai di tepi jalan ini. Sembari menatap rumput-rumput liar yang tengah berdiri dengan kokohnya, sudah saatnya dipotong. Pepohonan yang semakin menjulang tinggi seakan membuatku ingin berada pada puncaknya. Perjalanan ini masih panjang, masih penuh dengan bebatuan dan lubang aspal yang terkelupas oleh hujan dan terik mentari. Aku meninggalakan bekal makanan dan minumanku di rumah, entahlah aku hanya merasa tidak membutuhkan itu semua. Namun belum sampai setengah perjalanan, aku berhenti pada sebuah persimpangan jalan. Dua jalan yang aku tahu dimana ujungnya, aku sangat mengenal kemana jalan-jalan itu akan membawaku.
Jalan pertama, sebuah jalan yang aku yakini bahwa aku akan mampu menemukan semua mimpiku di sana. Bahwa jalan itu akan membawaku pada sebuah kisah lain yang telah lama aku nantikan. Di ujung jalan itu pula, seseorang tengah menungguku dengan sabar, dengan cinta dan segala perjuangan yang telah dilaluinya. Aku ingin berlari ke jalan itu, aku benar-benar ingin segera berjalan di sampingnya. Namun aku merasa ketakutan sendiri, tentang banyak hal. Tentang diriku yang seolah takut membuatnya terluka, tentang dirinya yang terlalu sempurna dalam pandangan mataku. Juga tentang rasa sayangku padanya yang seakan mampu melukai hatinya. Dari jarak sejauh inipun aku mampu melihat senyumnya yang seakan ingin menenangkanku, aku mampu mencium aroma tubuhnya yang selalu aku ingat saat terkhir kami bertemu. Aku mampu melihat semua impian kami yang seakan menjadi indah suatu hari nanti, aku mampu merasakan semuanya. Namun lagi-lagi, kakiku seakan berat melangkah karena sekali aku berlari ke jalan itu, selamanya aku tidak akan pernah bisa kembali. Selamanya aku akan hidup pada jalan itu, selamanya pula aku tidak akan menemukan kembali persimpangan jalan yang sama.
Lalu bagaimana dengan jalan kedua? Sebuah jalan yang akan membawaku kembali ke tempat pertama aku memulai perjalanan ini, jalan menuju rumahku. Bagaimana mungkin aku bisa memilih jalan ini jika pada akhirnya aku akan sampai pada tempat semula? Karena sepanjang perjalanan ini sungguh tidaklah mudah, aku membutuhkan cukup keberanian dan rasa percaya diri yang besar. Namun kini ketika aku sampai pada persimpangan ini, aku merasa seakan tak mampu mengambil keputusan tentang jalan mana yang akan aku pilih.
Inilah alasanku, mengapa kau harus berhenti? Mengapa aku harus terdiam cukup lama di persimpangan jalan ini? Mengapa aku harus benar-benar meyakinkan diriku bahwa aku harus memilih jalan pertama? Karena aku memiliki banyak alasan untuk itu, bahwa jalan pertama inilah yang selama ini aku cari, bahwa jalan pertama inilah yang akan membuatku belajar banyak hal. Aku sungguh ingin segera berlari menuju jalan pertama, aku sungguh ingin segera melalui jalan itu sesegera mungkin.
Namun, sebelum aku bangkit dari dudukku di bebatuan ini, ijinkan aku menikmati setiap hal yang ada di sekelilingku. Ada sebidang tanah lapang di samping tempatku duduk, tempat dimana aku bisa memutarinya dengan berteriak dan tertawa bahagia. Ada aliran sungai yang begitu bening beserta ikan yang berenang kesana kemari, tempatku bermain hingga sepanjang hari. Ada batang pohon yang begitu kokoh berdiri sejak lama, aku sering memanjatnya jika aku ingin menggapai bintangku. Kicauan burung yang membuat bising seolah terdengar merdu kali ini.
Bisakah aku menemukan itu semua di ujung jalan pertama tadi? Atau bisakah aku mengenang semua hal yang pernah aku alami jika aku telah melewati jalan pertama itu?
Ijinkan aku memikirkan semua hal tentang hidupku di persimpangan jalan ini, ijinkan aku mengenang setiap hal yang pernah aku alami hingga sampai pada persimpangan jalan ini.
Aku menyadari satu hal, bahwa hidupku akan benar-benar berubah ketika aku melangkah menuju jalan pertama. Aku menginginkan itu semuan namun aku ingin sejenak saja memikirkan semua hal yang pernah terjadi dalam hidupku.
Aku pasti akan bangkit dari dudukku dan berjalan dengan pasti menuju jalan pertama, hanya bersabarlah menungguku untuk menemukan keyakinan dalam diriku. Bahwa semua akan baik-baik saja jika kita berjalan bersama sayang…